BERANDA
LIPUTAN
PROGRAM
MAJALAH
PROFIL
Khanduri Laot
Novia Liza
Mon, 31 March 2008
Khanduri laot atau kenduri laut merupakan tradisi nelayan Aceh. Bagaimana sejarah dan nasibnya di tengah penerapan syariat Islam?
SENIN, 3 Maret 2008. Sepeda motor yang saya tumpangi melaju pelan melewati acara khanduri laot di desa Lampageu, kecamatan Peukan Bada. Genangan air masih terlihat di aspal, membuat jalan licin.

“Singgah,” ujar beberapa warga yang berlindung di bawah tenda, sambil melambaikan tangan mereka.

Seorang lelaki mendatangi kami yang berhenti tiga meter dari tempat tersebut. Dia menyapa saya dan Maina, teman seperjalananan saya, sembari memberi dua bungkusan yang masing-masingnya berisi nasi, kari daging kerbau, dan segelas air mineral.

Jak keundurie sama-sama (Ayo kenduri sama-sama dengan kami),” ajaknya, ramah.

Lokasi khanduri laot (kenduri laut) tersebut terpisah dari permukiman warga. Ada dua tenda besar dan satu tenda berukuran sedang yang didirikan khusus untuk tamu penting.

Beberapa lelaki setengah baya, umumnya berkulit hitam terbakar matahari, tampak duduk bercengkrama sambil melepaskan lelah. Ada delapan kuali besar berdiameter kurang lebih 90 sentimeter bertebaran di tanah. Sebagian masih menyimpan hangat tungku. Kuali-kuali ini lazim dipakai untuk memasak daging di pesta orang Aceh.

“Hari ini kami syukuran,” ujar Zaini, terseyum. Bahasa Indonesianya kaku.

Tanyoe na rezeuki, ya ta bagie,” ujarnya. Dia tersenyum-seyum lagi. Namun, perkataannya kali ini lebih terdengar mantap.

“Apa kendurinya buang sesajen ke laut?” tanya saya.

“Oh, tidak,” tukas Zaini. “Kita buang kepala saja dan yang tidak terpakai, tidak buang daging.”

Zaini meyakini bahwa membuang daging adalah tindakan mubazir. Dan memberi persembahan adalah syirik atau menyekutukan Allah. Syirik dipercayai sebagai dosa besar dalam agam Islam. Segala tindakan yang mengarah kepada menyekutukan Allah dengan mempercayai dan tunduk pada kekuatan lain selain Allah digolongkan sebagai syirik.

Pernyataan Zaini didukung teman-teman , sesama nelayan.

”Tidak ada kepercayaan (kepada kekuatan lain), itu kan syirik. Tanyoe (kita) kan cuma syukur,” sahut Abdul Andib.

“Tadi kita masak daging ini rame-rame,” ujarnya menjawab pertanyaan saya soal siapa koki kari kerbau itu. “Enak, kan?” Dia balas bertanya.

“Dia yang mimpin masaknya,” kata Andib sambil menunjuk ke arah Zaini. yang terseyum malu.

Zamzami, sekretaris desa Lampageu, mengatakan bahwa khanduri laot ini adalah kehendak untuk membina kesatuan dengan mugee (penampung dan penjual ikan) dengan nelayan.

Mereka baru setahun lalu kembali ke kampung setelah tsunami melanda Aceh pada Desember 2004. Sebelumnya mereka mendiami barak penampungan pengungsi tsunami.

“Ini inisiatif dari nelayan untuk mempererat hubungan mereka dengan mugee. Inilah cara yang paling bagus,” katanya, seraya tersenyum.

Hari itu Zamzami mengenakan setelan jaket biru dan celana jins biru. Rambutnya hitam legam, begitu juga kulitnya. Bicaranya lembut dan pelan, jauh dari kesan orang pesisir yang bersuara besar dan kasar.

Zamzami mengatakan bahwa lebih kurang Rp 10 juta dihabiskan untuk khanduri laot ini. Dana dikumpulkan dari nelayan dan mugee di mukim tersebut.

“Untuk mugee, sumbangannya Rp 90 ribu dan nelayan, Rp 100 ribu.” Dia tertawa.

Ada juga bantuan dana dari Yayasan Lamjabat dan peternak unggas yang kantor dan tempat kerjanya berada dekat pusat acara ini. Salah seorang penjabat Aceh Besar yang berkampung halaman di desa tersebut ikut pula menyumbang.

“Warga biasa tidak dikenakan pungutan sumbangan,” kata Zamzami, tegas.

Mukim Lampague ini membawahi empat desa, yakni desa Lamgureun, Lam Badeuk, Lambaro Neujit, dan Lampageu.

“Acara ini sebenarnya untuk satu mukim, tapi kita buat (pusatkan) di desa Lampageu,” ujar Zamzami, sambil membakar rokok dengan pemantik berwarna hijau.

Dari dana yang terkumpul, mereka membeli seekor kerbau jantan besar. Kerbau itu disembelih secara dan dimasak menggunakan bumbu kari khas Aceh dalam beberapa kuali hitam besar, menggunakan kayu bakar. Inti batang pisang yag lembut dijadikan sayuran untuk kari tersebut dan bahan ini lazim dipakai untuk kari Aceh dalam upacara besar.

Zamzami menyatakan bahwa lebih kurang 1000 bungkus paket makanan disiapkan untuk mereka yang hadir dan 200 paket tambahan disiapkan khusus untuk tamu tak terduga.

“Siapa saja yang lewat sini kita panggil semua,” kata Zamzami.

Persiapan acara telah dimulai sejak kemarin pagi, antara lain dengan membersihkan lahan dan mendirikan tenda.

Lokasi yang dipilih tak jauh dari Ujung Pancu, wilayah pemancingan yang terletak di ujung desa. Tenda-tenda didirikan dekat jalan aspal desa dengan pemandangan langsung ke laut lepas. Tak hanya panorama indah laut saja yang dapat disaksikan dari lokasi itu, juga pegunungan. Mukim ini terletak di wilayah pegunungan yang “bersentuhan” dengan pantai.

“Keesokan hari (hari acara) kita sembelih kerbau, masak kemudian berdoa, buang kepala kerbau ke laut lalu makan bersama-sama,” tambahnya.

Untuk hewan yang dipotong, menurut Zamzami, memang tidak ada syarat tertentu. Tapi kerbau yang disembelih biasanya kerbau jantan.

Khanduri laot ini tidak mempunyai waktu khusus. Ia lazim dilaksanakan setahun sekali atau maksimal, tiga tahun sekali. Pelaksanaannya tergantung pada kemampuan ekonomi warga setempat. Ketika dalam satu musim hasil tangkapan dinilai banyak, maka dilaksanakanlah khanduri tersebut.

Thip thon lageenyan, leh peu nyan hom lah (tiap tahun begitu tapi apa itu entahlah),” kata Nursalamah, salah seorang warga yang datang. “Tapi enak juga karena makan-makan gratis.” Tawanya meledak.

Galak lon jak cara lagenyan, ayeuu that (suka saya pergi acara seperti itu, enak sekali). Apalagi saat lihat kepala keube ( kerbau) nya dibawa ke laut. Tapi tadi saya tidak lihat kepala keube karena hujan,” kata Nursalamah, lagi.

“Mirip dengan praktek hajat laut di Pulau Jawa ya?” tanya saya kepada Zamzami.

“Kami tidak percaya ke situ. Kami cuma buang kepala, tulang dan kulit saja, sedangkan dagingnya bisa dimakan untuk anak yatim dan tamu, jadi ndak ada yang mubazir. Kalau kita buang daging itu kan istilahnya sudah mubazir,” sahut Zamzami.

Prosesi pembuangan kepala kerbau tersebut dengan cara mengumpulkan tulang, isi perut yang tidak digunakan (dimakan) dan kepala, dibungkus dengan kulit kerbau. Bungkusan tersebut dibawa ke lokasi yang sering dilalui nelayan setempat saat melaut dan dibuang di situ.

Han teungoh that, han bineh that (Tidak terlalu ke tengah, tidak terlalu ke pinggir). Ada doa bersama juga sesudah boh ulee nyan (buang kepala itu). Ya… doa sekedarnya,” jelas Zamzami. Sesekali dia menghisap rokoknya dalam-dalam.

Dalam rombongan pembuang kepala bungkusan tersebut ikut seorang tengku (ulama) atau orang yang dituakan di kampung.

“Tadi yang mengantar ada lima orang. Lon hana ikut meuno (saya tidak ikut tadi), terlambat. Hehehehe…. Ujeun (hujan),” jelasnya.

Di Pulau Jawa, tepatnya di Laut Selatan, terdapat prosesi adat laut yang dinamakan hajat laut. Pada acara itu seekor kerbau atau kepalanya beserta sesajian lainnya dihantarkan ke laut.

Hakikat hajat laut di jawa adalah ungkapan rasa syukur dan pengharapan kepada Tuhan atas tersedianya sumber kehidupan di laut dan keselamatan bagi para nelayan. Sebagai masyarakat yang hidup di tengah mitos Laut Selatan, ada pula yang menyatakan rasa syukur kepada 'penguasa' Laut Selatan, yakni Nyai Roro Kidul.

Upacara itu selalu dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis menjelang Selasa atau Jumat Kliwon pada bulan Muharam (Suro). Selasa dan Jumat Kliwon dianggap sebagai hari naas sehingga nelayan tidak boleh melaut.

Ketika sesaji menyentuh permukaan laut, belasan orang melompat dari perahunya dan menyerbu sesaji. Mereka berebut menciduk air laut di bawah dan di sekitar sesaji untuk disiramkan ke perahu masing-masing. Mereka percaya bahwa dengan menyiram perahu dengan air itu akan mendatangkan berkah berupa hasil tangkapan ikan yang berlimpah dan dijauhkan dari malapetaka saat melaut. Uba rampe (materi isi) sesaji ternyata juga dicari orang. Konon, itu juga menjadi perlambang murahnya rezeki bagi yang mendapatkannya.

Itulah pemuncak acara hajat laut yang ditunggu-tunggu para nelayan di kawasan itu.

Lain di Jawa, lain di Aceh.

Zamzami menyatakan bahwa khanduri laot juga berlangsung untuk membentuk panglima laot tingkat teupien.

“Jadi ketua teupin itu semacam cabang. Paska (pasca) tsunami ini baru terbentuk. Kampong lain sudah terbentuk bahkan sebelum tsunami. Mungkin desa kita yang terlambat,” katanya.

Menurutnya, jika ada panglima teupin maka pengaturan dan pengorganisasian nelayan di mukim tersebut terarah dan lebih efektif khususnya dalam mengurus bantuan nelayan di tempatnya.

“Alhamdullilah saya sekarang selain sekdes (sekretaris desa) juga menjabat ketua teupien di sini. Tadi baru dicetuskan,” ujarnya, malu-malu.

Teupin adalah tempat nelayan mendaratkan boat-nya.

Sebagai salah satu pusat kegiatan nelayan di saat pulang melaut, penggunaan teupien diatur dan dilindungi adat.


SANUSI M. Syarif dalam buku Luen Pukat dan Panglima La’ot menulis bahwa khanduri laot sebenarnya mempunyai demensi yang lebih luas dari sekedar makan dan berdoa. Dalam praktiknya, terutama di Aceh Rayeuk, khanduri juga menjadi media bagi panglima laot se-Aceh untuk melakukan kunjungan dan bersilahturrahmi. Ini membuat mereka lebih mengenal sesamanya dan mengetahui seluk-beluk adat laut di wilayah panglima laot lain. Momen ini nantinya akan sangat membantu panglima laot saat menyelesaikan sengketa antar nelayan dari wilayah adat laut yang berbeda.

Selain itu, khanduri laot juga menjadi fungsi sosial, seperti bagaimana nelayan mampu menyantuni anak yatim, sebagai wujud rasa syukur atas rezeki yang diperoleh melalui laut.

Iskandar Ahmad, mantan kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh periode 2005 – 2006 mengatakan bahwa khanduri laut merupakan ajang menyelesaikan bermacam masalahan menyangkut kerja mereka.

“Saya lihat khanduri itu juga sebagai rapat evaluasi mereka. Di hari itu mereka berkumpul bersama-sama. Selain euforianya, tapi mereka sebenarnya duduk rapat,” kata Iskandar kepada saya.

Kesempatan itu bisa terlaksana dengan banyaknya tokoh masyarakat yang hadir bersama nelayan yang setiap hari menghabiskan sebagian besar waktu di laut. Dengan pola tersebut, mereka memiliki satu hari khusus untuk duduk berkumpul dan membicarakan nasib mereka.

Menurut Iskandar, selain hari pantang melaut pada acara khanduri laut dan hari besar agama lainnya, pada hari Jumat juga tidak ada nelayan yang melaut di Aceh.

“Kami memanfaatkan hari Jumat itu sebagai hari ramah lingkungan. Kalau dihitung-hitung, di Aceh dalam sebulan itu (ada) empat hari tidak melaut. Kalau satu hari itu ada sejuta ekor yang tidak tertangkap dan dia bertelur itu berapa (jumlahnya)? Maka secara tidak langsung, di Aceh isu ramah lingkungan itu sudah jalan dari dulu,” katanya, bangga.

Di tempat terpisah, Zamzami berkata kepada saya, “Saat kenduri laot nelayan dilarang melaut, sampai tiga hari.”

“Kita umumkan kepada nelayan untuk dapat mengindahkan peraturan larangan melaut,” tambahnya, seraya mengambil kertas pengumuman dan membacakan isinya dengan keras. ”Tidak boleh melaut selama tiga hari tiga malam terhitung hari ini. Tidak boleh melaut pada hari jumat…”

“Kalau tidak ada kenduri ya tidak ada larangan tiga hari itu. Cuma setiap hari Jumat saja kita pantang melaut karena itu hari besar Islam,” lanjut Zamzami, tersenyum.

Wakil sekretaris panglima laot Aceh, Miftachuddin Cut Adek, juga melihat pantangan tersebut punya makna kurang lebih sama dengan yang diungkapkan Iskandar Ahmad. Saya menemuinya di kantor panglima laot se-Aceh di daerah Darussalam, Banda Aceh, pada suatu siang.

“Kita eksploitasi setiap hari ikan, sehingga perlu di istirahatkan,” katanya.

Dia mengatakan bahwa batasan lautnya sekitar lima mil dari darat. Selama acara kenduri ada pengangkatan bendera putih menandakan di laut sudah terjadi prosesi doa dan melempar kepala kerbau. Selama bendera putih itu dikibarkan nelayan tidak boleh masuk ke area tersebut.

“Orang di laut itu angkat bendera bahwa di laut telah dilempar kepala kerbau, itu berarti orang darat sudah boleh menyantap makanan yang disediakan. Kalau belum diangkat belum, boleh makan orang darat.” Dia menjelaskan sambil tertawa.

Kalau ada yang melanggar hari pantangan melaut tersebut maka sanksinya hasil tangkapan disita dan boat-nya ditahan panglima laot setempat selama tujuh hari.

Panglima laot adalah adalah pemimpin nelayan di suatu wilayah lhok atau wilayah penangkapan ikan dan berdomisili. Panglima laot berfungsi dan bertugas melestarikan hukum adat, adat-istiadat dan kebiasaan dalam masyarakat nelayan Aceh serta bermitra dengan pemerintah dalam pembangunan perikanan bila diminta.

Menurut Miftachuddin, pemilihan hewan seperti kerbau untuk disembelih di khanduri laot itu punya nilai spiritual. Selain kerbau, hewan lain tidak diperkenankan.

“Mengandung hikmah kerbau itu darahnya dingin dan darah nelayan itu panas makanya dalam kenduri perlu dinetralisasi dengan menggunakan kerbau,” jelasnya.

Di masa lampau, ketika nilai spiritual tadi masih kental dalam upacara pelemparan kepala kerbau, ternyata ada aturan khusus dalam memilih hewan kurban tersebut. Ia harus kerbau jagad (kerbau berbulu pirang), juga harus berkelamin jantan.

“Jantan itu kan lambang kekuasaan, keperkasaan biasanya itu kan identik dengan keberanian. Dan kerbau jantan itu banyak yang suka dagingnya, daripada kerbau betina. Dagingnya agak gimana gitu… coba potong aja lembu perempuan,” tuturnya, tanpa memerincikan kekurangan kerbau betina lebih rinci.

Ia kemudian mencontohkan reaksi orang dengan mimiknya, seandainya itu kerbau betina. “Nyoe keubeu inong (ini kerbau perempuan)? Ya, Allah….” Raut wajahnya terlihat tidak senang. “Memang dagingnya kurang lezat dibandingkan daging kerbau jantan,” lanjutnya, mengomentari daging kari yang disuguhkan.

Awalnya praktek khanduri laot di Aceh mirip dengan praktek hajat laut di pulau Jawa. Tujuannya menghormati penjaga laut.

“Itu saat Aceh Islamnya belum kental ya, sekitar ribuan tahun lalu, saat nilai magic-nya masih kuat,” jelasnya.

Miftachuddin mengatakan bahwa saat itu ketika kerbau hendak disembelih, hewan tersebut dilepas dan dikejar sambil disayat-sayat.

“Supaya darahnya menetes di pinggiran pantai. Itu menurut kepercayaannya untuk penjaga laut,” ujarnya.

Kini ritual tadi diganti dengan membuang kepala dan isi perut kerbau yang dibungkus kulit ke tengah laut, sekitar dua mil dari pantai.

“Di saat pelemparan kepala kerbau, diiringi dengan doa,” tuturnya.

Sejak itu ucapan terima kasih kepada penjaga laut dan hantu laut berubah jadi rasa terima kasih kepada Allah.

“Ini diisyaratkan sebagai adat laut dari nenek moyang yang dilestarikan,” tambahnya.

“Terakhir berubah lagi, nah….” Ia nyengir.

Sampai sekitar 90 tahun ini ritual itu terpelihara. Namun, baru-baru saja, berdasarkan keputusan panglima laot se-Aceh yang mengadakan pertemuan di Sabang, Pulau Weh, upacara membuang kepala kerbau itu tidak dibolehkan lagi. Alasan mereka, hal itu merujuk pada penerapan syariat Islam di Aceh. Kenduri cukup dengan doa bersama. Keputusan rapat tersebut tidak tertulis. Andai kerbau kepala masih dibuang ke laut, maka itu bukan lagi sebuah persembahan.

“Hanya sekedar nilai budaya yang dilestarikan dan sebagai sisi pariwisata,” tutur Miftachuddin.

“Ini kan pesta masyarakat nelayan, tapi penuh nilai budaya,” lanjutnya, lagi.


KEPALA Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Badruzzaman Ismail, mengatakan bahwa sejarah perkembangan khanduri laot pada awalnya untuk membangun satu potensi masyarakat supaya mereka bekerja dan berekonomi.

Seremoni tersebut dianggap sebagai sarana untuk memanggil orang agar berkumpul. Lewat makan bersama, akan lebih mudah menyampaikan sesuatu dan melakukan pendekatan sosial.

“Seperti publikasi dan lobi-lobi yang saat ini sering dilakukan lewat makan di restoran. Jadi dengan dibuat begitu, dengan terbuka seperti di sawah ada kenduri blang, begitu juga di laut ada kenduri laot. Jadi begitu ada upacara diberitahu supaya mereka masuk ke alam ini, tidak hanya di darat tapi juga di laut. Itu intinya,” tutur Badruzzaman.

Bagaimana dengan pelemparan kepala kerbau ke laut?

“Soalnya pada awal lahirnya belum ada alat yang bisa memberitahukan di mana sumber ikan yang banyak. Orang coba analisis salah satu cara yang sensitif (bagi) ikan itu adalah darah. Oleh karena itu kepala kerbau dibawa ke laut, dilepas. Darahnya dibawa air, kemudian ikan menciumnya. Itu kan awal lahirnya kebudayaan tersebut. Sebenarnya tidak ada hubungan dengan kepercayaan lain, kecuali itu semata-mata,” jelasnya.

Ketika khanduri laot tidak diadakan dan ikan sedikit, maka orang pun langsung menyalahkan absennya acara tersebut sebagai penyebab.

“Sebab kenduri juga tergantung pada kemampuan masyarakat. Sama juga ada Maulid (Nabi) di kampung-kampung. Terkadang tidak ada kenduri, karena masyarakatnya tidak mampu, begitu juga di laut,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa inti dari kegiatan tersebut bukan untuk memuja sesuatu. Meskipun ada yang mengaitkannya dengan ajaran Hindu yang erat dengan sesajian atau persembahan.

“Ada kemungkinan, kita tidak tahu persis apakah awalnya ada pengaruh Hindu. Karena saya melihat, kalau saya analisis ya… hampir semua kegiatan di dunia beracara dan terjadwal dan ramai disaksikan orang. Kepala dibawa ke laut dan satu keasyikan juga memandang laut sembari melaksanakan prosesi buang kepala kerbau tersebut. Timbullah semangat. Kalau tidak, kan cuma lempar gitu aja. Tapi ada nilai khidmatnya,” jelasnya, panjang lebar.

Bagaimana dengan konteks syariat Islam yang sekarang tengah dihubung-hubungkan dengan berbagai aspek kehidupan orang Aceh?

Ulhee keubu ta meutagun (kepala kerbau mau dimasak) silahkan, mau dibuang silahkan, selama niat kita untuk umpan. Jadi itu cuma simbolis. Soalnya kita butuh suasana yang meriah,” kata Badruzzaman.

Dia menganggap khanduri laot tak bertentangan dengan Islam. Semua itu tergantung niat.

“Tidak keliru, asal jangan salah niatnya, (seperti) untuk minta rezeki lebih banyak dari kekuatan lain. Itu salah, syirik (menyekutukan Allah),” katanya, lagi.

“ Kalau itu salah tentu dia (ulama) tidak mau memimpin doa di situ kan.” Ia mempertegas penjelasannya.

Menurut Badruzzaman, kalau khanduri laot ini bertentangan dengan Islam pasti sudah sejak dulu dilarang. Hukum Islam sudah berabad-abad diterapkan di Aceh, sejak masa Kesultanan dulu, meski tidak dijadikan hukum negara dan tak tertuang dalam qanun macam sekarang ini.

Muslim Ibrahim, pemimpin Majelis Permusyawaratan Ulama atau MPU, menyebutkan bahwa khanduri laot dianjurkan dalam agama karena pada praktiknya ada perteguhan silahturrahmi dan nilai berbagi.

Selain itu, menurut Muslim, kepala kerbau yang dibuang itu berguna untuk memberi makan ikan-ikan.

“Selama hikmahnya besar, tidak ada unsur pemujaan, itu hukumnya boleh atau jais (tidak dilarang) dalam Islam,” jelasnya.

Dia menyatakan bahwa maksud khanduri laot tersebut bisa dijelaskan saat acara berlangsung.

“Pada momen pidato dari pemuka desa, agama dan nelayan bisa disisipkan penjelasan kedudukan kenduri tersebut sambil menyisipkan nilai ketauhidan (ketuhanan). Agar pada prakteknya dikemudian hari tidak melenceng,” katanya kepada saya.



*) Novia Liza adalah kontributor Pantau Aceh Feature Service di Banda Aceh. Ia mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Ar Raniry.
kembali keatas
Kursus Narasi XVIII
FacebookTwitter