BERANDA
LIPUTAN
PROGRAM
MAJALAH
PROFIL
Peruntungan Joey, Kesialan Joey
Oryza Ardyansyah Wirawan
Tue, 8 April 2008
Wartawan Amerika, Mark Bowden, menulis kisah hidup Joey Coyle, seorang pencandu obat bius yang berurusan dengan pengadilan dan mafia gara-gara uang temuannya.

PHILADELPHIA. Kamis, 26 Februari 1981. Di tengah badai sakaw methamphetamine, Joseph William Coyle merasa menemukan peruntungannya. Ia mengawali pagi dengan terkapar di kasur. Tubuhnya bergetar sepanjang malam, menagih cairan itu.

Namun, kini Joey–begitu ia disapa–seperti melihat masa depan gemilang. Selama ini ia merasa sudah cukup menderita bekerja sebagai buruh pelabuhan. Sekarang, dua kantong kanvas bertuliskan Federal Reserve Bank berada di hadapannya. Isinya pecahan seratus dollar Amerika. Jumlah tepatnya diketahui kemudian: 1,2 juta dollar!

Uang itu ia temukan dalam sebuah kotak di di Swanson Street, dalam perjalanan pulang ke rumah bersama dua kawan. Joey hanya berharap barang bekas mulanya.


Sweet Jesus,” teriak Joey.

Dua sobatnya, John Behlau dan Jed Pennock, terpana. Joey tertawa dan terus tertawa, sampai-sampai gigi palsunya copot.

Di lain tempat, detektif Pat Laurenzi pusing tujuh keliling. Sebuah kotak metal berisi kantong uang dilaporkan jatuh di sekitar Front Street. Kotak uang itu terlompat dari mobil jasa pengamanan uang milik Purolator Armored Company.

Uang tersebut milik sebuah kasino, keuntungan bisnis judi. Bendel tak berurutan. Begitu hilang, uang tak akan terlacak, jika seseorang ingin menggunakannya.

Sangkaan awal dialamatkan kepada dua sopir yang bertugas saat itu, Bill Proctor dan Ralph Saracino. Proctor ketakutan setengah mampus. Dialah orang terakhir yang mengunci pintu mobil boks tempat penyimpanan uang. Saracino membela rekannya, dan menegaskan Proctor sudah melaksanakan tugasnya dengan benar.

Jadi di mana uang itu? Sebuah pertanyaan ini sudah cukup untuk membuat para jurnalis di Philadelphia mengendus adanya berita bagus.

Mark Bowden adalah salah satu jurnalis yang meliput peristiwa tersebut. Ia berusia 30 tahun dan bekerja sebagai staf reporter di
Philadelphia Inquirer, sebuah koran terkenal di ibukota negara bagian Pennsylvania itu.

Bowden adalah seorang penulis berbakat. Ia tahu ini bakal jadi cerita bagus.


Saya memutuskan ketika ini semua selesai, saya akan menyatukannya semua dalam sebuah tulisan naratif,” katanya kepada saya melalui surat elektronik, 27 tahun setelah kejadian itu.

Saya menemukan alamat surat elektronik Bowden di internet. Kami beberapa kali saling berbalas surat elektronik. Ia senang mengetahui saya telah membaca
Finders Keepers: The Story of a Man Who Found $1 Million, kisah peruntungan dan kesialan Joey Coyle. Ia juga terkejut ketika mengetahui bahwa buku itu sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Saya meminta Bowden agar bersedia diwawancarai via surat elektronik mengenai bukunya.
Finders Keepers berbeda dengan buku-buku Bowden lainnya. Dalam kariernya, ia lebih dikenal karena buku-buku reportasenya mengenai politik, perang bersenjata, dan perang terhadap kejahatan.

Bowden menulis buku tentang perburuan gembong narkoba Pablo Escobar dalam
Killing Pablo: The Hunt for the World's Greatest Outlaw (2001). Namanya berkibar saat menulis Black Hawk Down, sebuah kisah pertempuran kota antara pasukan Amerika Serikat dengan milisi di Mogadishu, ibu kota Somalia, Afrika Timur.

Saya tertarik dengan
Finders Keepers, karena buku ini bertutur tentang orang kebanyakan yang memperoleh rejeki nomplok. Di Indonesia, sosok Joey bisa siapa saja. Bowden membuat narasi tentang sosok manusia yang memikat. Hal ini jarang dilakukan oleh jurnalis Indonesia yang rata-rata dididik sebagai beat reporter (reporter harian) yang selalu dikejar tenggat waktu.

Namun dengan rendah hati, kepada saya, Bowden mengatakan, “FK (
Finders Keepers) adalah kisah yang lebih sederhana ketimbang yang saya tulis tahun-tahun berikutnya, dan karena saya terlibat dalam peliputannya saat terjadi, saya memulai karya ini dengan tinjauan yang kuat…Tapi secara keseluruhan ini kisah yang paling sederhana.”

Dalam website
www.creativenonfiction.org, Bowden memandang Finder Keepers sebagai permainan yang menggembirakan, dengan sosok Joey yang kikuk, nakal, menyenangkan.

Tantangan utama yang dihadapi Bowden adalah bagaimana memahami Joey: mengapa ia menyimpan uang yang ditemukannya di jalan.

Joey memang sosok yang tak tertebak dan berwarna. Sebagaimana ditulis Bowden, setelah menemukan uang lebih dari sejuta dollar, lelaki itu melakukan langkah-langkah pengamanan yang ceroboh, yang justru membuatnya gampang ketahuan.

Di Philadelphia, jangan pernah bicara soal temuan uang. Joey melakukan kesalahan pertamanya dengan bercerita kepada Carl Masi, seorang pensiunan petinju kelas ringan, berusia 54 tahun.

Nama Masi muncul di benak Joey, setelah ia kebingungan memecah uang seratus dollar ke pecahan yang lebih kecil. Joey memang sudah bertekad memiliki uang itu.
Finders keepers. Yang menemukan, berhak memiliki.

Aku menemuimu untuk minta bantuan,” kata Joey kepada Masi.

Masi bersikeras meminta Joey mengembalikan uang itu. Hubungi pengacara, kembalikan uang. “Dan kau akan dapat imbalan dari mereka,” katanya.

Tapi Joey menolak.

Keputusan ini kelak akan membuat Joey semakin menderita, karena ia terpaksa berhubungan dengan dunia mafia Philadelphia, yang menggiringnya ke Mario “Sonny” Riccobene.

Riccobene khas mafia Italia. Pendek. Gemuk. Berkacamata hitam. Berjidat lebar, dengan suara yang parau dan berat.

Joey berjanji memberi sepertiga uang temuannya kepada Riccobene. Sang mafioso pun bersedia membantu. Riccobene akan membawa uang itu ke kasino dan memainkannya. Memutar uang itu dalam kekalahan dan kemenangan. “Satu dua hari beres,” katanya.

Awalnya, Joey merasa bahwa melibatkan Riccobene adalah ide cemerlang. Ia bisa bersenang-senang dengan Linda Rutter, pacarnya. Agenda harian mereka tak jauh dari urusan obat bius, seks, dan alkohol.

Namun, setelah itu, ia jadi waswas. Joey cemas kalau Masi dan mafia yang diharap menjadi dewa penolong tadi justru berbalik berkhianat. Bukankah sisa uang ratusan ribu dollar yang masih ada padanya terlalu menarik untuk dilewatkan?

Ia juga curiga dua sobatnya, Pannock dan Behlau, mengincar uang tersebut. Keduanya mendorong Joey untuk mengembalikan uang yang tersisa. Di lain pihak, jasa pengamanan uang Purolator berjanji memberi hadiah 50 ribu dollar bagi penemu uang itu. Joey ketakutan, tapi ia bersikeras menolak usul Pannock dan Behlau.

Obat bius menggandakan rasa takutnya. Ia takut terhadap polisi.

Polisi tidak sulit melacak jejak Joey, yang hampir kepada setiap orang yang dikenalnya selalu berkata dengan bangga, “Akulah orangnya.”

Namun, di atas segalanya, Joey paling takut terhadap Riccobene. Rasa takut tersebut tak terucapkan kepada siapa pun. Ia memutuskan segera ke luar negeri: Acapulco, Mexico.

Kekhawatirannya bakal dibunuh mafia tak sampai terjadi. Rumah Carl Masi digeledah polisi. Selanjutnya, John Behlau dan Jed Pannock mendapat giliran. Nama Joey segera diperoleh dan dalam hitungan jam, ia jadi buronan.

Rabu, 4 Maret 1981. Joey berada di antrean penumpang di bandara John F. Kennedy, saat seseorang menegurnya. “Namamu Joey Coyle?”


Ya.”

Sebuah tanda pengenal dikeluarkan: FBI. Biro investigasi federal Amerika.

Petualangan Joey berakhir.

Ia ditangkap bersama 105 ribu dollar yang disimpan dalam 21 amplop. Masing-masing amplop berisi lima ribu dollar. Polisi melacak ke mana larinya uang ditebarkan Joey, termasuk aliran ke Riccobene.

Masi membantah keterlibatan Riccobene. Ia membantah orang itu pernah datang ke rumahnya. Lagipula, andai cerita Joey benar, Riccobene tak akan mau hanya kebagian jatah sepertiga.

Bowden mengatakan dalam suratnya kepada saya bahwa sosok Riccobene memang diperdebatkan. Ia sendiri tidak pernah bisa mewawancarai Riccobene. Namun, ia menerapkan disiplin verifikasi yang ketat untuk menceritakan kembali adegan kehadiran sang mafioso.


Saya mencatat sumber-sumber saya dengan beragam versi–sebagian bilang dia ada, sebagian bilang tidak. Saya pribadi percaya dia ada. Catatan saya mengenai apa yang dia katakan dan lakukan, terutama berdasarkan wawancara saya dengan Joey, Pennock, dan Behlau,” kata Bowden kepada saya dalam korespondensi kami.

Bowden sangat disiplin melakukan verifikasi. Ia mewawancarai semua tokoh dalam kejadian itu. Ia juga menggunakan catatan kepolisian, rekaman sidang, pernyataan Joey dan saksi-saksi.


Saya merunutnya kembali dan mewawancarai semua karakter utama yang mau bicara. Saya merekam semua wawancara itu dengan
tape recorder,” kata Bowden.

Bill Kovach dalam buku
Sembilan Elemen Jurnalisme meletakkan disiplin verifikasi sebagai salah satu elemen jurnalisme. Disiplin verifikasi adalah ihwal yang memisahkan jurnalisme dari hiburan, propaganda, fiksi, atau seni. Melalui verifikasi, wartawan harus membuka sebanyak mungkin sumber berita untuk mengungkap sebuah peristiwa.

Kendati Bowden menyatakan
Finders Keepers adalah buku yang paling sederhana dibandingkan buku lainnya, bukannya tidak ada kesulitan dalam proses penulisan. “Saya kesulitan memilah-milah apa yang sebenarnya terjadi dari hari ke hari setelah Joey menemukan uang itu, karena ingatannya payah,” katanya.

Lalu bagaimana Anda menanganinya?” tulis saya.

Saya tetap menguntitnya, dan menggunakan informasi dari wawancara (narasumber) lain untuk memproduksi dan mengorganisasi ingatannya,” jawab Bowden.

Dalam wawancara yang dimuat di website www.creativenonfiction.org, Bowden menjelaskan bahwa cerita itu sejak awal hingga akhir diwarnai kisah kecanduan Joey terhadap narkoba. Ia melihat bahwa seluruh cerita itu sebagai persoalan kecanduan.


Uang hanyalah sebuah simbol
slapstick idaman Joey. Saya sadar, saat duduk menuliskannya, kisah tentang Joey Coyle adalah sebuah perumpamaan tentang kecanduan,” kata Bowden.

Bowden menghabiskan waktu empat atau lima bulan untuk menggarap kisah hidup Joey. Ia mengumpulkan semua materi tulisan, membuat kerangka tulisan, lalu menulis. Ia memilih struktur tulisan kronologis, tapi bergerak maju mundur dengan sedikit cerita terpisah tentang apa yang dilakukan kepolisian dengan apa yang diperbuat Joey.

Tulisan ini diterbitkan pertama kali secara bersambung dalam tiga bagian di
The Philadelphia Inquirer Sunday Magazine. Judul aslinya, “Joey Coyle Story”. Tahun 2002, artikel tadi baru diterbitkan dalam bentuk buku.

Secara esensial, isi buku sama dengan artikelnya, dengan tambahan satu bab persidangan dan vonis bebas Joey Coyle, dan sebuah epilog buntut kejadian itu, pembuatan film yang sangat buruk dan kematian Joey,” kata Bowden dalam surat elektroniknya.

Finders Keepers
tidak dipersiapkan untuk menjadi sedramatis In Cold Blood yang ditulis Truman Capote. In Cold Blood awalnya adalah kisah bersambung yang dimuat di majalah The New Yorker pada tahun 1965, mengenai dua pemuda yang membantai sebuah keluarga.

Capote mengikuti perkembangan kasus tersebut sekitar lima tahun. Ia ikuti persidangan kedua pembunuh berdarah dingin itu. Ia lantas membuat bab penutup dengan menceritakan bagaimana Richard Hickock dan Perry Smith dihukum mati.

Bowden mengikuti persidangan Joey yang alot. Media ikut membentuk opini di seputar Joey.
Daily News menyebut Joey romantis dan pahlawan pujaan masyarakat. Philadelphia Inquirer menyebutnya ramah, tampan, disukai wanita, dan tidak pernah melanggar hukum.

Joey populer karena dermawan. Jill Porter dari
Daily News dalam buku itu menyesalkan sikap Joey yang tidak mengembalikan uang temuannya segera. Namun ia juga mengatakan bahwa tak ada juri yang bakal mendakwa Joey bersalah dalam insiden yang dialaminya.

Bowden menceritakan adegan di persidangan dengan detail. Bukunya yang lain,
Black Hawk Down, merupakan ajang pameran kemampuan Bowden dalam menceritakan detail berdasarkan wawancara dengan banyak narasumber dan dokumen.

Saya menggunakan setiap teknik yang saya pernah baca dan kagumi. Saya menggunakannya untuk membuat tulisan saya semenarik mungkin, karena itulah intinya. Tak satu pun orang tergerak oleh sesuatu yang mereka tidak baca,” katanya, sebagaimana yang dimuat www.creativenonfiction.org.

Sidang menghasilkan klimaks yang menyenangkan semua orang dan khas Hollywood. Februari 1982, Dewan juri membebaskan Joey.

Sepuluh tahun setelah persidangan, aktor John Cussack menemui Joey dan Tish Konowal, pacar Joey ketika itu. Joey menjamu Cussack dengan
kielbasa, makanan khas Polandia. Ia mengira sang aktor keturunan Polandia. Pasangan ini tertawa saat tahu Cussack berdarah Irlandia.

Tahun 1992, kisah Joey difilmkan dengan judul
Money for Nothing dengan Cussack sebagai bintangnya. Tampaknya semua akan baik-baik saja, hingga 15 Agustus 1993.

Takdir membuat
Finders Keepers akhirnya berujung dramatis. Delapan tahun setelah penayangan artikel Joey Coyle Story, harian The New York Times memuat berita mengejutkan: Joseph William Coyle tewas di rumahnya di Philadelphia, di usia 40 tahun.

Ia gantung diri dengan kabel listrik. Sebelum meninggal, lelaki ini masih belum lepas dari ketergantungannya terhadap narkoba dan sudah enam kali masuk ruang pengadilan karena obat bius.

Joey mati sebulan sebelum
Money for Nothing ditayangkan.

Sutradara film itu Ramon Menendez, sebagaimana dikutip
The New York Times, filmnya ingin menggambarkan “apa arti menemukan uang bagi bocah seperti dia.”

Kini kita kembali lagi kepada Bowden. Apa kuncinya dalam menulis dahsyat?
Simak pernyataannya dalam sebuah website.


Saran saya untuk para penulis muda: berhentilah membaca seperti pembaca, dan mulailah membaca seperti penulis. Baca kembali cerita, buku, dan bagian dari buku yang cocok untuk Anda. Bedah prosa itu. Tulis sendiri dengan tangan Anda. Masuki pikiran sang penulis. Gambarkan kenapa ini berhasil. Lalu maju dan lakukan hal yang sama.”


*) Oryza Ardyansyah Wirawan adalah kontributor sindikasi Pantau di Jember, Jawa Timur. Ia mewawancarai Mark Bowden via email untuk membuat tulisan ini, selain ditambah bahan wawancara dari website www.creativenonfiction.org.

kembali keatas
Kursus Narasi XVIII
FacebookTwitter