BERANDA
LIPUTAN
PROGRAM
MAJALAH
PROFIL
Kidung Dari Kota Reinha
Ahmad Yunus
Tue, 25 March 2008
Ribuan orang mengikuti prosesi Paskah di Larantuka. Warisan peninggalan penyebaran Katolik Portugis abad ke-15 yang masih dirawat hingga saat ini.

IBU tua itu menangis terisak-isak. Jarinya tak henti mengusap kedua matanya yang sembab dan berair. Ia berdiri sambil mengenang dosa masa lampaunya. Air matanya jatuh. Mulutnya tak henti-henti memanjatkan sebuah doa.

“Maafkan dosa saya, Bunda Maria, maafkan,” ujarnya tersedu-sedu. Ia terus bertahan di tengah sengatan matahari yang terik. Udara cukup gerah. Riak arus gelombang laut berjalan tenang. Angin darat mengalir pelan memberikan sedikit keteduhan.

Ia meratapi pada sebuah peti berkain hitam yang disucikan Katolik. Peti itu bersemayam sebuah patung Yesus. Salahsatu peninggalan penyebaran Katolik Portugis pada masa abad ke-15 di Larantuka, Flores Timur.

Tak jauh dari tempat ia berdiri, sebuah kapel kecil tengah merapalkan sebuah doa. Dan seorang pastor tak henti-hentinya menceritakan tentang kisah pedih yang dialami oleh Yesus.

Yesus disalibkan. Tangannya ditancapkan oleh sebuah kayu yang tajam hingga uratnya putus dan mengeluarkan darah. Ia dilempari oleh kotoran bau busuk. Kepalanya dimahkotai duri besi. Yesus dicambuk oleh besi panas. Begitu, pastor itu bertutur mengisahkan cerita pilu ketika Yesus menjelang meninggal.

Anak-anak dan orangtua berjejer rapi meratapi sebuah peti hitam yang diangkut oleh empat orang berpakaian hitam-hitam. Mereka ini adalah perwakilan dari beberapa suku atau Mardomu. Peti hitam ini adalah perumpamaan peti jenazah Yesus.

Di barisan depan berjejer para confreria berjubah putih yang mengawal peti ini menuju sebuah perahu. Mereka membawa sebuah tongkat salib. Ratusan ummat Katolik yang menyaksikan tahap prosesi ini larut dalam kesedihan. Patung suci Yesus ini—tuan Meninu— adalah pelindung kota Rowido sekitar tiga kilometer dari Larantuka.

Di ujung sana, di atas laut, ratusan perahu siap mengantarkan peti itu. Dari perahu kecil hingga perahu besar yang bermuatan hingga 15 ton lebih. Ratusan orang berada di atas perahu itu. Sambil merapalkan doa-doa mengantarkan peti ini menuju kapela tuan Ma atau Bunda Maria. Kemudian patung Yesus dan Bunda Maria ini dibawa dan disimpan di Katedral.

Udara terasa lembab. Puluhan perahu kecil mendayuh melawan arus laut. Langit semakin gelap. Matahari tertutup awan mendung. Kilat petir menghantam laut. Rintik-rintik hujan pun jatuh ke bumi.


JUMAT menjelang malam, 21 Maret 2008. Hujan sore tadi baru saja usai. Udara terasa segar. Lilin-lilin kecil menyala berjejer rapi di sepanjang trotoar jalan. Begitu juga di setiap rumah warga yang ikut menyalakan lilin. Mereka menaruh foto Bunda Maria dan patung Yesus di halaman rumah.

Orang-orang berpakaian rapi bergegas menuju gereja Katedral dekat pelabuhan. Ini gereja peninggalan Portugis terbesar di Larantuka. Berasitektur abad pertengahan.

Larantuka adalah kota kecil menghadap laut. Banyak pohon. Pantainya bersih. Di sepanjang pantai terdapat taman bunga yang rapi. Pasar, rumah warga, gedung pemerintahan, dan pelabuhan diatur rapi mengikuti sepanjang pantai.

Di sini, Portugis menyebarkan misi pertama Katolik di kepulauan Flores. Tak heran di Larantuka banyak ditemukan patung-patung keramik Bunda Maria dan Yesus berukuran kecil hingga sedang.

Pada tahun 1529 Paus menyerahkan tugas menyebarkan Katolik di Solor dan Timor kepada misionaris Portugis dari ordo Dominikan. Pada tahun 1556 seorang kapten kapal dagang Protugis membaptis raja dari kampung Lohayong di Solor, Flores Timur.

Portugis datang ke Nusantara tak hanya untuk menyebarkan misi Katolik. Namun, Portugis juga hendak mencari rempah-rempah dan kayu Cendana. Pada masa abad ke-15, rempah-rempah dan kayu Cendana termasuk barang mahal dan dibutuhkan di daratan Eropa. Kepulauan macam Flores, Maluku, Ternate termasuk surga untuk rempah-rempah.

Perdagangan dan misi agama, khususnya Islam dan Kristen menimbulkan sejumlah konflik di kepulauan Solor ini. Pada tahun 1583 pengaruh Islam semakin meluas. Pulau Lamahala jatuh ke dalam wilayah kekuasaan Islam.

Kekuasaan Portugis dan kerajaan Larantuka semakin terdesak dan mundur setelah kedatangan kapal-kapal serikat dagang Hindia Belanda atau VOC. Tahun 1613 benteng Lohayong yang dibangun oleh misionaris Dominikan pindah ke tangan VOC.

Setahun kemudian serikat dagang Hindia Belanda mengalahkan Portugis di Malaka. Kekalahan ini berarti pukulan penyebaran misi Katolik oleh Portugis. Juga untuk menguasai wilayah penghasil rempah-rempah.

VOC tiba untuk dagang dan menguasai perdagangan rempah-rempah. Hingga serikat dagang ini menguasai beberapa pulau besar, seperti bangsa-bangsa Sumatera, Jawa, Borneo, dan Celebes. Kecuali, bangsa Acheh yang terus melakukan perlawanan kepada VOC maupun kerajaan Belanda.

Dan sejarah raja-raja bangsa di kepulauan Nusantara ini pun pupus sudah di tangan penaklukan sebuah serikat dagang. Perlawanan dan intrik-intrik politik-ekonomi dari raja-raja Nusantara tutup buku. Dan sejarah pun kembali mencatat, serikat dagang Hindia Belanda ini hancur akibat korupsi dan hutang dagang yang merajalela.

Dan kerajaan Belanda mengambil alih dari tangan VOC dan kemudian menguasai Nusantara hingga 350 tahun lamanya. Tahun 1949—dengan kemunculan gerakan nasionalisme di bawah arsitek Soekarno, Hatta, Muhamad Yamin dan Syahrir—Belanda kemudian menyerahkan kekuasaannya pada Republik Indonesia melalui Perjanjian Linggarjati.

Soekarno dan Yamin melihat Majapahit sebagai kerajaan besar yang pernah menguasai kepulauan Nusantara. Ide dan model Majapahit ini kemudian melahirkan apa yang disebut dengan Indonesia.

Saya melihat di Flores rempah-rempah memang tumbuh subur. Kopi, coklat, jambu mete hingga kelapa tumbuh baik. Bahkan kopi dan mete asal Flores ini termasuk komoditas terbaik di dunia!

Saya baru pertama menginjakkan kaki di Flores. Jalan di Flores baik. Aspalnya bagus. Namun di kiri kanan jalan banyak kawasan curam dan bukit berbatu. Beberapa bukit cukup tinggi dan berhawa sejuk. Kalau lagi hujan, kabut cukup tebal seperti di Wolowaru, Kabupaten Ende.

Malam itu gereja Katedral penuh sesak. Di dalam gereja tengah berlangsung liturgi mengenang wafat Yesus di bukit Golgota. Setelah doa selesai di gereja, ribuan orang berjalan pelan sambil membawa dan menyalakan lilin.

Perjalanan ini akan melalui delapan armida. Di setiap penghentian armida merapalkan doa dan mendengarkan isi wahyu kitab Injil. Suara doa terasa bergemuruh. Sesekali kemudian hening larut mendengarkan isi wahyu kitab Injil.

Malam penuh dengan kidung yang berisikan doa dan harapan. Bermunajat agar kehidupan manusia lebih baik dan terbebas dari dosa dan kejahatan. Kidung doa ini terasa syahdu. Orang tua, pemuda, remaja hingga anak-anak larut dalam prosesi Paskah ini.

Beberapa orang dari confreria Reinha Rosari Larantuka membawa tandu patung Bunda Maria berkerudung biru. Juga peti hitam yang isinya patung Yesus. Keduanya berangkat dari gereja Katedral dan kemudian diantar kembali menuju gereja Katedral.


MALAM itu langit cerah sekali. Bulan terang benderang membentuk seperti cincin atau menyerupai telur mata sapi. Jam menunjukkan pukul 00.00. Patung sudah kembali ke gereja namun arak-arakan masih terus berjalan.

Saya ikut dalam barisan ribuan orang yang mengikuti prosesi Paskah ini. Kaki terasa pegal. Dan tenggorokan terasa kering. Namun rasa lelah itu tak membuat saya mundur dan keluar dari barisan. Prosesi ini terasa bermakna dan indah. Saya bertahan untuk melihat dari dekat bagaimana ummat Katolik merindukan hari Paskah.

Saya bukan Kristen. Orangtua mewariskan Islam pada saya. Saya teringat prosesi jalan seperti ini menyerupai orang muslim ketika melakukan ibadah haji di Mekkah. Jutaan muslim dunia datang dan kemudian mengitari bangunan kotak dari batu hitam, Ka’bah. Muslim merindukan untuk naik haji agar doa dan harapannya terkabulkan.

Seorang warga di Larantuka, Anton Hadjon menceritakan bahwa prosesi Paskah di Larantuka dirindukan warga asal Flores juga ummat Katolik lainnya. Tak heran orang-orang datang dengan cara apapun. Ada yang naik bis, motor, truk bahkan sampan seperti warga dari Lamalera yang terkenal di dunia karena perburuan ikan Paus.

Beberapa kawan saya datang bersama rombongan dari Jakarta hanya sekedar untuk ikut prosesi Paskah ini. Ada yang datang dari Semarang, Pulau Sumba, dan Pulau Solor. Beberapa wisatawan dari Brazil dan Portugis juga melihat prosesi Paskah di Larantuka ini.

“Mereka adalah peziarah. Tak heran kota ini namanya adalah kota Reinha. Artinya, kota Bunda Maria,” katanya.

Di sini, katanya, warga Larantuka lebih dekat dengan sosok Bunda Maria. Saya tidak tahu kenapa, mungkin, warga Larantuka punya makna sendiri dengan sosok Bunda Maria. Mungkin karena itu, pemerintahan Kabupaten Larantuka pun membangun patung Bunda Maria dalam ukuran cukup tinggi.

“Saya sudah hampir lima puluh tahun tidak ikut prosesi ini. Dulu saya ikut masih sekolah dasar. Saya bahagia,” kata Pater Kaliktus Suban Hadjon pada saya. Ia adalah saudara tua Anton Hadjon. Waktu itu, katanya, jalan masih berbatu dan Larantuka masih lebat dengan hutan. Tradisi pengaruh kerajaan Larantuka masih kuat.

“Saya lari kalau lihat raja. Orang tak boleh melihat rumah raja ,” katanya.

Prosesi ini memang melalui rumah kediaman keturunan raja Larantuka dari keluarga Ile Jadi—nama baratnya, Diaz Vieyra Di Gondinho—Luas kediaman raja Larantuka cukup lapang. Saat ini rumah ini hanya diisi oleh keturunan raja. Kerajaan Larantuka diperkirakan berusia 700 tahun. Kerajaan Majapahit sempat menguasai kerajaan-kerajaan kecil seperti di Larantuka ini pada abad ke XIV.

Portugis pertama kali memandikan raja kesebelas Larantuka, Raja Don Francisco Ola Ado Bala DVG agar mengakui dan memeluk agama Kristen.

Saat ini sudah tak ada lagi larangan untuk tak menoleh pada rumah raja. Apalagi lari terbirit-birit karena melihat raja datang.

Prosesi Paskah ini selesai hingga pukul 02.00 Sabtu dini hari. Orang-orang terlihat lelah. Ada yang duduk menjongkok di trotoar jalan. Ada juga yang langsung pulang ke rumah masing-masing. Hotel dan penginapan kecil penuh oleh peziarah.

Warga bercerita tradisi prosesi Paskah peninggalan Portugis di Larantuka ini hanya satu-satunya yang masih berlangsung. Saat ini Portugis sendiri sudah tak lagi menyelenggarakan prosesi Paskah seperti di Larantuka, Flores Timur.

Prosesi Paskah di Larantuka berjalan tertib dan tenang. Walau kota sekecil itu mendadak ramai dikunjungi oleh ribuan orang. Dan ummat Katolik di Larantuka mengenang, bermunajat dan melantunkan kidung terakhir pada Bunda Maria; “Tersingkap di Lordes warta gembira. Ibu surga cinta kita di bumi, ave Maria. Ave Maria”.


*) Ahmad Yunus adalah Editor Pantau Ende Media Center.

kembali keatas
Kursus Narasi XVIII
FacebookTwitter